“Walisongo” berarti sembilan orang wali”
Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru-murid
Maulana Malik Ibrahim yang tertua. Sunan Ampel anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru: mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur Nusantara. Sunan Giri dan Sunan Gunung Jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan Sunan Muria adalah pendamping sejati kaum jelata.
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung, membuat “sembilan wali” ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Masing-masing tokoh tersebut mempunyai peran yang unik dalam penyebaran Islam. Mulai dari Maulana Malik Ibrahim yang menempatkan diri sebagai “tabib” bagi Kerajaan Hindu Majapahit; Sunan Giri yang disebut para kolonialis sebagai “paus dari Timur” hingga Sunan Kalijaga yang mencipta karya kesenian dengan menggunakan nuansa yang dapat dipahami masyarakat Jawa -yakni nuansa Hindu dan Budha.
Maulana Malik Ibrahim (1)
Maulana Malik Ibrahim, atau Makdum Ibrahim As-Samarkandy diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah, pada paruh awal abad 14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah Jawa terhadap As-Samarkandy, berubah menjadi Asmarakandi
Maulana Malik Ibrahim kadang juga disebut sebagai Syekh Magribi. Sebagian rakyat malah menyebutnya Kakek Bantal. Ia bersaudara dengan Maulana Ishak, ulama terkenal di Samudra Pasai, sekaligus ayah dari Sunan Giri (Raden Paku). Ibrahim dan Ishak adalah anak dari seorang ulama Persia, bernama Maulana Jumadil Kubro, yang menetap di Samarkand. Maulana Jumadil Kubro diyakini sebagai keturunan ke-10 dari Syayidina Husein, cucu Nabi Muhammad saw.
Maulana Malik Ibrahim pernah bermukim di Campa, sekarang Kamboja, selama tiga belas tahun sejak tahun 1379. Ia malah menikahi putri raja, yang memberinya dua putra. Mereka adalah Raden Rahmat (dikenal dengan Sunan Ampel) dan Sayid Ali Murtadha alias Raden Santri. Merasa cukup menjalankan misi dakwah di negeri itu, tahun 1392 M Maulana Malik Ibrahim hijrah ke Pulau Jawa meninggalkan keluarganya.
Beberapa versi menyatakan bahwa kedatangannya disertai beberapa orang. Daerah yang ditujunya pertama kali yakni desa Sembalo, daerah yang masih berada dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Desa Sembalo sekarang, adalah daerah Leran kecamatan Manyar, 9 kilometer utara kota Gresik.
Aktivitas pertama yang dilakukannya ketika itu adalah berdagang dengan cara membuka warung. Warung itu menyediakan kebutuhan pokok dengan harga murah. Selain itu secara khusus Malik Ibrahim juga menyediakan diri untuk mengobati masyarakat secara gratis. Sebagai tabib, kabarnya, ia pernah diundang untuk mengobati istri raja yang berasal dari Campa. Besar kemungkinan permaisuri tersebut masih kerabat istrinya.
Kakek Bantal juga mengajarkan cara-cara baru bercocok tanam. Ia merangkul masyarakat bawah -kasta yang disisihkan dalam Hindu. Maka sempurnalah misi pertamanya, yaitu mencari tempat di hati masyarakat sekitar yang ketika itu tengah dilanda krisis ekonomi dan perang saudara. Selesai membangun dan menata pondokan tempat belajar agama di Leran, tahun 1419 M Maulana Malik Ibrahim wafat. Makamnya kini terdapat di kampung Gapura, Gresik, Jawa Timur.n
Sunan Ampel (2)
Ia putera tertua Maulana Malik Ibrahim. Menurut Babad Tanah Jawi dan Silsilah Sunan Kudus, di masa kecilnya ia dikenal dengan nama Raden Rahmat. Ia lahir di Campa pada 1401 Masehi. Nama Ampel sendiri, diidentikkan dengan nama tempat dimana ia lama bermukim. Di daerah Ampel atau Ampel Denta, wilayah yang kini menjadi bagian dari Surabaya (kota Wonokromo sekarang)
Beberapa versi menyatakan bahwa Sunan Ampel masuk ke pulau Jawa pada tahun 1443 M bersama Sayid Ali Murtadho, sang adik. Tahun 1440, sebelum ke Jawa, mereka singgah dulu di Palembang. Setelah tiga tahun di Palembang, kemudian ia melabuh ke daerah Gresik. Dilanjutkan pergi ke Majapahit menemui bibinya, seorang putri dari Campa, bernama Dwarawati, yang dipersunting salah seorang raja Majapahit beragama Hindu bergelar Prabu Sri Kertawijaya.
Sunan Ampel menikah dengan putri seorang adipati di Tuban. Dari perkawinannya itu ia dikaruniai beberapa putera dan puteri. Diantaranya yang menjadi penerusnya adalah Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Ketika Kesultanan Demak (25 kilometer arah selatan kota Kudus) hendak didirikan, Sunan Ampel turut membidani lahirnya kerajaan Islam pertama di Jawa itu. Ia pula yang menunjuk muridnya Raden Patah, putra dari Prabu Brawijaya V raja Majapahit, untuk menjadi Sultan Demak tahun 1475 M.
Di Ampel Denta yang berawa-rawa, daerah yang dihadiahkan Raja Majapahit, ia membangun mengembangkan pondok pesantren. Mula-mula ia merangkul masyarakat sekitarnya. Pada pertengahan Abad 15, pesantren tersebut menjadi sentra pendidikan yang sangat berpengaruh di wilayah Nusantara bahkan mancanegara. Di antara para santrinya adalah Sunan Giri dan Raden Patah. Para santri tersebut kemudian disebarnya untuk berdakwah ke berbagai pelosok Jawa dan Madura.
Sunan Ampel menganut fikih mahzab Hanafi. Namun, pada para santrinya, ia hanya memberikan pengajaran sederhana yang menekankan pada penanaman akidah dan ibadah. Dia-lah yang mengenalkan istilah “Mo Limo” (moh main, moh ngombe, moh maling, moh madat, moh madon). Yakni seruan untuk “tidak berjudi, tidak minum minuman keras, tidak mencuri, tidak menggunakan narkotik, dan tidak berzina.”
Sunan Ampel diperkirakan wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di sebelah barat Masjid Ampel, Surabaya.n
Sunan Giri (3)
Ia memiliki nama kecil Raden Paku, alias Muhammad Ainul Yakin. Sunan Giri lahir di Blambangan (kini Banyuwangi) pada 1442 M. Ada juga yang menyebutnya Jaka Samudra. Sebuah nama yang dikaitkan dengan masa kecilnya yang pernah dibuang oleh keluarga ibunya–seorang putri raja Blambangan bernama Dewi Sekardadu ke laut. Raden Paku kemudian dipungut anak oleh Nyai Semboja (Babad Tanah Jawi versi Meinsma).
Ayahnya adalah Maulana Ishak. saudara sekandung Maulana Malik Ibrahim. Maulana Ishak berhasil meng-Islamkan isterinya, tapi gagal mengislamkan sang mertua. Oleh karena itulah ia meninggalkan keluarga isterinya berkelana hingga ke Samudra Pasai.
Sunan Giri kecil menuntut ilmu di pesantren misannya, Sunan Ampel, tempat dimana Raden Patah juga belajar. Ia sempat berkelana ke Malaka dan Pasai. Setelah merasa cukup ilmu, ia membuka pesantren di daerah perbukitan Desa Sidomukti, Selatan Gresik. Dalam bahasa Jawa, bukit adalah “giri”. Maka ia dijuluki Sunan Giri.
Pesantrennya tak hanya dipergunakan sebagai tempat pendidikan dalam arti sempit, namun juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Raja Majapahit -konon karena khawatir Sunan Giri mencetuskan pemberontakan- memberi keleluasaan padanya untuk mengatur pemerintahan. Maka pesantren itupun berkembang menjadi salah satu pusat kekuasaan yang disebut Giri Kedaton. Sebagai pemimpin pemerintahan, Sunan Giri juga disebut sebagai Prabu Satmata.
Giri Kedaton tumbuh menjadi pusat politik yang penting di Jawa, waktu itu. Ketika Raden Patah melepaskan diri dari Majapahit, Sunan Giri malah bertindak sebagai penasihat dan panglima militer Kesultanan Demak. Hal tersebut tercatat dalam Babad Demak. Selanjutnya, Demak tak lepas dari pengaruh Sunan Giri. Ia diakui juga sebagai mufti, pemimpin tertinggi keagamaan, se-Tanah Jawa.
Giri Kedaton bertahan hingga 200 tahun. Salah seorang penerusnya, Pangeran Singosari, dikenal sebagai tokoh paling gigih menentang kolusi VOC dan Amangkurat II pada Abad 18.
Para santri pesantren Giri juga dikenal sebagai penyebar Islam yang gigih ke berbagai pulau, seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga Nusa Tenggara. Penyebar Islam ke Sulawesi Selatan, Datuk Ribandang dan dua sahabatnya, adalah murid Sunan Giri yang berasal dari Minangkabau.
Dalam keagamaan, ia dikenal karena pengetahuannya yang luas dalam ilmu fikih. Orang-orang pun menyebutnya sebagai Sultan Abdul Fakih. Ia juga pecipta karya seni yang luar biasa. Permainan anak seperti Jelungan, Jamuran, lir-ilir dan cublak suweng disebut sebagai kreasi Sunan Giri. Demikian pula Gending Asmaradana dan Pucung -lagi bernuansa Jawa namun syarat dengan ajaran Islam.n
Sunan Bonang (4)
Ia anak Sunan Ampel, yang berarti juga cucu Maulana Malik Ibrahim. Nama kecilnya adalah Raden Makdum Ibrahim. Lahir diperkirakan 1465 M dari seorang perempuan bernama Nyi Ageng Manila, puteri seorang adipati di Tuban
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah
yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n
Sunan Kalijaga (5)
Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.n
Sunan Gunung Jati (6)
Banyak kisah tak masuk akal yang dikaitkan dengan Sunan Gunung Jati. Diantaranya adalah bahwa ia pernah mengalami perjalanan spiritual seperti Isra’ Mi’raj, lalu bertemu Rasulullah SAW, bertemu Nabi Khidir, dan menerima wasiat Nabi Sulaeman. (Babad Cirebon Naskah Klayan hal.xxii).
Semua itu hanya mengisyaratkan kekaguman masyarakat masa itu pada Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah diperkirakan lahir sekitar tahun 1448 M. Ibunya adalah Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran Raden Manah Rarasa. Sedangkan ayahnya adalah Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina.
Syarif Hidayatullah mendalami ilmu agama sejak berusia 14 tahun dari para ulama Mesir. Ia sempat berkelana ke berbagai negara. Menyusul berdirinya Kesultanan Bintoro Demak, dan atas restu kalangan ulama lain, ia mendirikan Kasultanan Cirebon yang juga dikenal sebagai Kasultanan Pakungwati.
Dengan demikian, Sunan Gunung Jati adalah satu-satunya “wali songo” yang memimpin pemerintahan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan pengaruhnya sebagai putra Raja Pajajaran untuk menyebarkan Islam dari pesisir Cirebon ke pedalaman Pasundan atau Priangan.
Dalam berdakwah, ia menganut kecenderungan Timur Tengah yang lugas. Namun ia juga mendekati rakyat dengan membangun infrastruktur berupa jalan-jalan yang menghubungkan antar wilayah.
Bersama putranya, Maulana Hasanuddin, Sunan Gunung Jati juga melakukan ekspedisi ke Banten. Penguasa setempat, Pucuk Umum, menyerahkan sukarela penguasaan wilayah Banten tersebut yang kemudian menjadi cikal bakal Kesultanan Banten.
Pada usia 89 tahun, Sunan Gunung Jati mundur dari jabatannya untuk hanya menekuni dakwah. Kekuasaan itu diserahkannya kepada Pangeran Pasarean. Pada tahun 1568 M, Sunan Gunung Jati wafat dalam usia 120 tahun, di Cirebon (dulu Carbon). Ia dimakamkan di daerah Gunung Sembung, Gunung Jati, sekitar 15 kilometer sebelum kota Cirebon dari arah barat.n
Sunan Drajat (7)
Nama kecilnya Raden Qosim. Ia anak Sunan Ampel. Dengan demikian ia bersaudara dengan Sunan Bonang. Diperkirakan Sunan Drajat yang bergelar Raden Syaifuddin ini lahir pada tahun 1470 M
Sunan Drajat mendapat tugas pertama kali dari ayahnya untuk berdakwah ke pesisir Gresik, melalui laut. Ia kemudian terdampar di Dusun
Jelog –pesisir Banjarwati atau Lamongan sekarang. Tapi setahun berikutnya Sunan Drajat berpindah 1 kilometer ke selatan dan mendirikan padepokan santri Dalem Duwur, yang kini bernama Desa Drajat, Paciran-Lamongan.
Dalam pengajaran tauhid dan akidah, Sunan Drajat mengambil cara ayahnya: langsung dan tidak banyak mendekati budaya lokal. Meskipun demikian, cara penyampaiannya mengadaptasi cara berkesenian yang dilakukan Sunan Muria. Terutama seni suluk.
Maka ia menggubah sejumlah suluk, di antaranya adalah suluk petuah “berilah tongkat pada si buta/beri makan pada yang lapar/beri pakaian pada yang telanjang’.
Sunan Drajat juga dikenal sebagai seorang bersahaja yang suka menolong. Di pondok pesantrennya, ia banyak memelihara anak-anak yatim-piatu dan fakir miskin.n
Sunan Kudus (8)
Nama kecilnya Jaffar Shadiq. Ia putra pasangan Sunan Ngudung dan Syarifah (adik Sunan Bonang), anak Nyi Ageng Maloka. Disebutkan bahwa Sunan Ngudung adalah salah seorang putra Sultan di Mesir yang berkelana hingga di Jawa. Di Kesultanan Demak, ia pun diangkat menjadi Panglima Perang
Sunan Kudus banyak berguru pada Sunan Kalijaga. Kemudian ia berkelana ke berbagai daerah tandus di Jawa Tengah seperti Sragen, Simo hingga Gunung Kidul. Cara berdakwahnya pun meniru pendekatan Sunan Kalijaga: sangat toleran pada budaya setempat. Cara penyampaiannya bahkan lebih halus. Itu sebabnya para wali –yang kesulitan mencari pendakwah ke Kudus yang mayoritas masyarakatnya pemeluk teguh-menunjuknya.
Cara Sunan Kudus mendekati masyarakat Kudus adalah dengan memanfaatkan simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al Baqarah yang berarti “sapi betina”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi.
Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Sebuah pendekatan yang tampaknya mengadopsi cerita 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.
Bukan hanya berdakwah seperti itu yang dilakukan Sunan Kudus. Sebagaimana ayahnya, ia juga pernah menjadi Panglima Perang Kesultanan Demak. Ia ikut bertempur saat Demak, di bawah kepemimpinan Sultan Prawata, bertempur melawan Adipati Jipang, Arya Penangsang.n
Sunan Muria (9)
Ia putra Dewi Saroh –adik kandung Sunan Giri sekaligus anak Syekh Maulana Ishak, dengan Sunan Kalijaga. Nama kecilnya adalah Raden Prawoto. Nama Muria diambil dari tempat tinggal terakhirnya di lereng Gunung Muria, 18 kilometer ke utara kota Kudus
Gaya berdakwahnya banyak mengambil cara ayahnya, Sunan Kalijaga. Namun berbeda dengan sang ayah, Sunan Muria lebih suka tinggal di daerah sangat terpencil dan jauh dari pusat kota untuk menyebarkan agama Islam.
Bergaul dengan rakyat jelata, sambil mengajarkan keterampilan-keterampilan bercocok tanam, berdagang dan melaut adalah kesukaannya.
Sunan Muria seringkali dijadikan pula sebagai penengah dalam konflik internal di Kesultanan Demak (1518-1530), Ia dikenal sebagai pribadi yang mampu memecahkan berbagai masalah betapapun rumitnya masalah itu. Solusi pemecahannya pun selalu dapat diterima oleh semua pihak yang berseteru. Sunan Muria berdakwah dari Jepara, Tayu, Juana hingga sekitar Kudus dan Pati. Salah satu hasil dakwahnya lewat seni adalah lagu Sinom dan Kinanti.
tugas tulisan,sejarah sambilan wali atau walisongo
tugas tulisan,dampak sosial krisis moneter 1997
1. DAMPAK SOSIAL KRISIS MONETER 1997
Krisis perekonomian yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 di Indonesia telah menimbulkan dampak sosial yang luas di masyarakat. Dampak tersebut diantaranya dirasakan di bidang ekonomi secara umum, politik dan budaya. Tulisan berikut beurupaya mengupas masalah tersebut lebih jauh.
What
Seperti yang telah kita ketahui sejak pertengahan tahun 1997, Indonesia di dera krisis perekenomian – yang sebenarnya adalah akumulasi persoalan di masa lalu yang memuncak seiring dengan terjadinya krisis regional di hampir semua belahan asia. Krisis ditandai dengan menurunnya secara drastis nilai tukar rupiah terhadap dollar, sehingga membuat kinerja perekonomian Indonesia yang banyak mengandalkan utang dalam dollar, tapi pemasukan dalam rupiah menjadi “collapse”. Kondisi perekonomian yang “sempoyongan” ini merambah kesemua sektor; likuidasi beberapa bank, penutupan beberapa perusahaan, PHK besar-besaran, harga-harga sembako melonjak. Krisis ekonomi (Krismon) ini mau tak mau memicu krisis sosial; kriminilitas melonjak, kekerasan kolektif meningkat. Krisis sosial juga memicu krisis politik; Soeharto mulai kehilangan legitimasi politik. Puncak dari segala “kegaduhan sosial” ini berujung dengan peristiwa-perisitiwa kekerasan politik menjelang (peristiwa Semanggi I) dan setelah mundurnya Soeharto dari kursi Presiden tangggal 21 Mei 1998 (peristiwa Semanggi II), dan beberapa peristiwa kekerasan lainnya yang umumnya terjadi dalam latar belakang perebutan kekuasan politik.
Krisis, dapat kita bedakan menjadi dua kelompok. Pertama, yang percaya bahwa krisis itu disebabkan oleh unsur eksternal, yaitu perubahan sentimen pasar uang secara cepat yang menimbulkan panik finansial. Panik finansial ini dengan proses penularan (contagion) menjadi krisis . Kedua, yang berpendapat bahwa krisis timbul karena adanya kelemahan struktural di dalam perekonomian nasional, dalam sistim keuangan atau perbankan dan praktek kapitalisme kroni atau kapitalisme ‘ ersatz’ .
Krisis di Indonesia merupakan kombinasi dari adanya gejolak eksternal melalui dampak penularan (contagion) pada pasar finansial dengan ekonomi nasional yang mengandung berbagai kelemahan struktural, yaitu sistim perbankan dan sektor riilnya. Dalam perkembangannya krisis ekonomi menjalar ke krisis sosial-politik karena kelemahan pada sistim sosial-politik Indonesia.
Proses terjadinya dimulai dengan adanya gejolak yang berdampak penularan pada pasar uang yang dihadapi Pemerintah dengan mengandalkan kebijaksanaan moneter yang berlaku saat itu (suatu pengambangan mata uang terkendali dengan penetapan batas ambang jual-beli valuta BI serta depresiasi merayap setiap tahunnya). Pelaksanaan kebijakan ini melalui pelebaran rentang jual-beli BI dan intervensi pasar pada waktu kurs di pasar uang ‘spot’ melampaui yang ditentukan. Akan tetapi sebagai dampak sampingan dari kebijakan moneter yang menyertasi langkah intervensi pasar ternyata suku bunga yang meningkat telah memberatkan bank-bank yang kurang sehat, bahkan pada putaran selanjutnya bank yang sehatpun menderita dari penciutan likuiditas dalam perekonomian. Dalam proses ini, gejolak yang melanda pasar uang dengan dampak penularan ini pada akhirnya mengungkap kelemahan perbankan nasional. Sektor perbankan Indonesia yang memang lemah tersebut kemudian mengalami ‘distress’, yang secara cepat berubah menjadi krisis, karena turunnya kepercayaan masyarakat (deposan) yang kemudian melakukan penarikan dana secara bersama dan besar-besaran pada banyak bank. Masalahnya menjadi sistemik, menyangkut banyak bank dan sistim perbankan . Pemilik dana melakukan tindakan penyelamatan dana mereka dengan memindahkannya pada bank yang dalam persepsi mereka aman. Ini dikenal dengan istilah ‘flight to safety’ dan ‘flight to quality’ . Setelah perbankan mengalami krisis, secara cepat kemudian masalahnya menjalar ke sektor riil dalam perekonomian (karena kredit kepada nasabah, termasuk untuk perusahaan-perusahaan banyak yang dihentikan atau suku bunganya ditingkatkan sangat tinggi) dan akhirnya terjadi krisis ekonomi (produksi dan perdagangan terganggu, kemudian lumpuh). Kalau dari gejolak pasar uang timbul krisis perbankan karena lemahnya perbankan, maka dari krisis perbankan timbul krisis ekonomi disebabkan oleh lemahnya sektor riil dari perekonomian nasional, antara lain karena praktek kapitalisme ‘ersatz’ yang penuh dengan KKN dengan masalah yang melekat padanya.
Setelah itu, dengan cepat krisis menjalar menjadi krisis sosial dan politik, mungkin budaya, juga karena karena kelemahan struktural pada kehidupan sosial-politik serta lemahnya berbagai nilai budaya di masyarakat. Dengan demikian ternyata dampak penularan krisis itu tidak hanya bekerja secara gografis, menjalar dari Thailand ke Indonesia dan negara-negara lain di Asia. Akan tetapi juga dari kehidupan ekonomi ke kehidupan sosial dan politik di dalam suatu negara, karena kelemahan struktural yang terkandung di dalamnya. Lemahnya struktur sosial-politik ini merupakan akibat dari penekanan pendekatan keamanan dengan penciptaan kestabilan sosial-politik secara dipaksakan dalam era kepemimpinan Orde Baru. Kestabilan ini dicapai melalui cara-cara represi, menghilangkan semua unsur yang berpotensi menjadi pesaing dari penguasa dengan cara apapun, bahkan yang melanggar hak azasi. Kita melihat bahwa selama ini semua organisasi, sosial, profesi, fungsional, apalagi politik, selalu mengalami ‘pembinaan’ atau ‘digarap’ dengan berbagai cara untuk tidak vokal, tidak menuarakan sesuatu yang berbeda dari penguasa. Di dalam kehidupan politik tidak dikenal oposisis. Semua ini dikatakan tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia. Kestabilan yang tercapai dengan rekayasa ini merupakan kestabilan semu, dan tidak tahan lama. Kelemahan yang terungkap oleh atau dalam krisis ini adalah sikap hidup yang ‘lebih besar pasak dari tiang’ serta sikap hidup yang tertutup dan mendasarkan diri atas ‘tribalism’, menggunakan istilah yang digunakan Prof. Arif Budiman . Gejolak pasar uang yang dahsyat mengungkap borok lemahnya sistim perbankan dan menimbulkan krisis perbankan nasional. Krisis perbankan mengungkap borok kapitalisme ersatz dan menimbulkan krisis ekonomi. Akhirnya, krisis ekonomi mengungkap borok lemahnya sistim sosil-politik dan menimbulkan krisis sosial-politik serta kepemimpinan nasional.
Apakah dampak sosial krisis ekonomi? Saya kira sudah menjadi jelas, dengan perkembangan yang membalik dari laju pertumbuhan produksi yang tinggi dalam jangka waktu yang lama menjadi penurunan tajam, inflasi yang relatif terkendali menjadi hiperinflasi, masuknya modal asing dalam jumlah besar manjadi keluar dan larinya modal dalam jumlah besar, maka tingkat pengangguran menjadi sangat tinggi, jumlah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan meningkat drastis, jumlah anak yang putus sekolah meningkat drastis, kejahatan meningkat tinggi dan banyak lagi dislokasi sosial dalam intensitas yang tinggi. Ini semua yang mengungkapkan kelemahan struktural kehidupan sosial-politik di Indonesia. Didahului dengan demosntrasi mahasiswa yang terus menerus (Crosby Corporate Advisory, suatu perusahaan konsultan, mencatat, pada tahun 1998 ada lebih dari 2000 kali demosntrasi mahasiswa, 1300 kali aksi unjuk rasa oleh LSM, 500 pemogokan dan 50 kali huru-hara ), kemudian menyusul kerusuhan 13-14 Mei yang mengungkapkan begitu banyak borok masyarakat kita. Ini akhirnya yang menjatuhkan pemerintahan pak Harto pada tanggal 21 Mei 1998.
Why/how
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, krisis Indonesia merupakan gabungan dari faktor ekstern dan kelemahan didalam yang secara bergandengan telah menimbulkan proses ‘contagion’ secara meluas dan mendalam dan telah menyebabkan krisis yang dialami Indonesia menjadi paling buruk di antara negara-negara yang menderita krisis. Dibandingkan dengan won Korea dan baht Thailand, depresiasi rupiah jauh lebih besar. Demikian pula arus balik masuknya kapital, pertumbuhan ekonomi, inflasi, dislokasi sosial dan mulai timbulnya tanda-tanda pemulihan, posisi Indonesia lebih buruk dari ke dua negara tersebut.
Kelemahan di dalam bidang ekonomi: Terutama menyangkut tiga hal, pertama besarnya pinjaman perusahaan jangka pendek dalam mata uang asing (dollar) tanpa ada perlindungan/hedging. Praktek pembiayaan usaha yang sangat mengandalkan pinjaman sehingga debt to equity ratio di Indonesia terlalu tinggi (highly leveraging). Dana ini digunakan untuk investasi yang kurang baik diperhitungkan resikonya; mempunyai sifat menggelembung (bubble), bahkan spekulatif, seperti properti. Penghasilan investasi dalam rupiah, padahal sumber dananya, bahkan yang dari dalam negeri, dalam dollar. Investasi jangka panjang dibiayai dengan pinjaman jangka pendek. Semua ini secara perhitungan ekonomi sudah membahayakan. Padahal masih ditambah lagi dengan banyaknya pemborosan dan kebocoran karena lemahnya ‘governance’ dalam praktek kapitalisme kroni. Yang kedua, lemahnya sistim perbankan di Indonesia: banyaknya bank dengan permodalam yang tidak kuat, besarnya kridit macet dan kepatuhan terhadap peraturan kehati-hatian yang lemah, kurang transparansi dengan pengawasan yang tidak kuat pula serta ‘governance’ yang lemah pada perbankan sendiri maupun pihak otoritanya. Ini masih ditambah dengan kurangnya transparansi, pada pemerintah dan swasta, sehingga menimbulkan banyak salah pengertian di masyarakat (misalnya masalah BLBI yang sangat pelik menjadi lebih kompleks lagi karena pengertian yang tidak akurat atau tidak lengkap dari banyak pihak, juga dengan arti dan konsekuensi dari kepemilikan bank, dan sebagainya).
Selain itu, yang ketiga adalah kelemahan sektor riil, sebagai akibat dari ‘crony capitalism’ dengan ketidak efisienan praktek monopoli dan oligopoli serta kebocoran karena korupsi dan kebocoran-kebocoran lain.
Di luar ekonomi; adanya kelemahan struktur sosial dan politik. Sistim kenegaraan kita yang terlalu terpusat pada kekuasaan eksekutip dan mementingkan kestabilan sosial dan politik dengan cara yang represif, meniadakan segala bentuk oposisi dan beda pendapat (dissent) di semua kehidupan bernegara dan bermasyarakat, telah menghasilkan kestabilan yang ‘semu’ . Kestabilan semu ini rontok sangat cepat pada waktu Indonesia di landa krisis ekonomi. Jadi krisis ekonomi telah mengungkap lemahnya kelembagaan sosial dan politik Indonesia, sebagaimana gejolak keuangan (kurs) telah mengungkap lemahnya kelembagaan perbankan dan keuangan Indonesia. Pada waktu keadaan ekonomi bagus, kelemahan-kelemahan ini, meskipun diketahui oleh kebanyakan orang, tidak perlu ahli atau pakar (coba diingat masalah kebocoran yang dimasyarakat sejak tahun 1993 sering dikaitkan dengan pernyataan Prof. Sumitro di kongres ISEI di Surabaya tentang tingginya ICOR di Indonesia dibandingkan Thailand) gampang dilupakan. Keadaan ekonomi yang bagus telah meninabobokkan upaya memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada di masyarakat. Demikian pula rekayasa menciptakan kestabilan (yang semu itu) – terutama cara-cara yang beragam dari yang halus sampai yang melanggar hak asasi – telah menekan berbagai arus yang berusaha melakukan koreksi di masa Orde Baru.
Untuk dapat ‘sustainable’ sistim ekonomi (pasar) menuntut adanya kelembagaan yang kuat, seperti sistim keuangan dan perbankan, sistim kepemilikan, sistim hukum, baik ketentuan perundangan, penegakan, pengadilan serta sanksi, demikian pula proses demokrasi. Pelaksanaan sistim demokrasi juga menuntut adanya kelembagaan yang kuat, termasuk kelembagaan hukum tadi. Ucapan Dennis de Tray, Direktur WB di Jakarta yang baru saja digantikan oleh yang baru memang tepat, katanya “Indonesia’s great shortfall was that it had too many weak institutions and one very strong and unsustainable institution. The weak institutions were the legal system, the financial system, the civil service, and an underdeveloped democratic process. The strong and unsustainable institution was Soeharto”
Beberapa sifat yang mendorong krisis atau mempersulit daya tahan menghadapi gejolak :
o hidup yang lebih besar pasak dari tiang pada taraf nasional, perusahaan, dan secara individu, baik dalam kegiatan ekonomi maupun hidup hidup bermasyarakat dan bernegara.
o krisis nilai budaya ; ketertutupan, feodalistis dan ‘tribalism’.
Who
Belajar dari pengalaman pembangunan yang lalu dan krisis serta penaggulannya, dari keberhasilan dan kegagalan, pembangunan di masa depan harus lebih merata kesemua aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, mendasarkan atas asas keadilan dan demokrasi; pendekatan pembangunan yang holistik.
Joseph Stiglitz mengatakan bahwa bahwa pembangunan itu merupakan suatu transformasi dari masyarakat, suatu perubahan dari hubungan-hubungan tradisional, cara berpikir tradisional, cara-cara tradisional dalam melaksanakan bermacam kegiatan ke arah yang lebih ‘modern’. Proses transformasi ini harus terus menerus dilakukan untuk menyempurnakan pembangunan dengan sasaran-sasaran yang diinginkan bersama. Saya melihat bahwa selama ini masyarakat Indonesia telah menjalani hidup yang pada dasarnya bisa dikatakan lebih besar pasak dari pada tiang dengan segala akibat-akibat negatifnya. Karena itu, dalam pembangunan sehabis krisis ini perlu diperhatikan bahwa:
• Manusia Indonesia baru harus dapat menghindarkan diri dari hidup yang lebih besar pasak dari tiang dalam segala aspek kehidupannya. Sikap ini harus diganti dengan semangat kebanggaan meraih yang diinginkan dengan jerih payah sendiri, tanpa jalan pintas atau jalur cepat melalui KKN.
• Manusia Indonesia baru harus berani mengganti ‘tribalism’ dengan budaya yang lebih manusiawi, budaya ketertutupan dengan keterbukaan, feodalisme dengan demokrasi dan ekslusifisme dengan inklusifisme.
Laju pembangunan mungkin sama pentingnya dengan tingkat kemajuan. Efeknya adalah persis sebaliknya dari maksud-maksudnya; laju yang cepat meningkatkan ketegangan-ketegangan sosial; angka pertumbuhan yang rendah menguranginya. Di sini kita mendapatkan ide Marxis bahwa kemajuan teknologi meningkatkan antagonisme sosial, akan tetapi dia mendapatkan perbaikan. Perbedaan antara masyarakat-masyarakat stabil dan masyarakat di dalam proses akselerasi pembangunan mungkin sama pentingnya dengan perbedaan antara masyarakat maju secara berkelebih-lebihan dan masyarakat terbelakang.
For what
Bagaimana Indonesia keluar dari krisis? Pembahasan ini tidak dapat dipisahkan dari proses terjadinya krisis itu sendiri. Perkembangan dari suatu gejolak menjadi krisis, dan dari krisis yang satu ke yang lain telah melalui proses dari timbulnya masalah, langkah-langkah mengatasi masalah (policy responses) dan reaksi dari pasar serta masyarakat, baik di dalam negeri maupun di luar, semuanya telah tercampur. Berbagai pelajaran telah dapat dipetik, baik dari mengidentifikasi sebab-musababa maupun sifat dari krisis dan efektif tidaknya langkah mengatasi masalah yang diambil. Dalam kaitan ini, harus diterima bahwa delam menghadapi suatu contagion, kata-kata the sooner the better dan the problems usually are bigger than expected, memang sangat tepat. Karena itu untuk keluar dari krisis kita tidak mempunyai kemewahan untuk berlambat-lambat dan karena prosesnya panjang serta berat maka harus berani menerima banyak kekecewaan selama proses tersebut. Ini menuntut kita untuk jangan cepat putus asa. Tetapi jangan juga cepat puas.
Jalan keluar harus disesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Karena krisis ini bukan bersifat single variable, maka jalan keluarnya tidak mungkin hanya dari satu aspek saja. Aspeknya banyak, yang satu terkait dengan yang lain, karena itu pendekatannya harus ‘sistemik’, dalam keseluuruhan kaitannya. Tidak berati semua harus diselesaikan sekaligus, karena dalam bidang ekonomi saja ada masalah jangka pendek dan jangka panjang, ada mikro dan makro yang semuanya harus diselesaikan. Dalam hal ini pemilihan prioritas dan pentahapan (sequencing ) yang realistis mungkin perlu diperhatikan. Namun dari pelajaran di atas, karena kita harus menerima kekecewaan, maka pendeketan ini harus terus menerus, konsisten tapi fleksibel.
Berbagai langkah keluar yang sudah dilakukan pada dasarnya menyangkut beberapa aspek: kebijakan makro, moneter dan fiskal untuk mengatasi masalah nilai tukar, inflasi dan memburuknya perekonomian, kebijaksanaan restrukturisasi keuangan dan perbankan, termasuk restrukturisasi pinjaman perusahaan dan restrukturisasi perusahaan, kebijaksanaan restrukturisasi sektor riil, kebijakan restrukturisasi kelembagaan, dan penaggulangan dampak sosial krisis dengan program jaringan sosial. Pendekatannya sendiri, dari cara penanggulangan gejolak moneter pada tingkat permulaan sampai meminta bantuan IMF dalam bentul ‘stand-by arrangement’ dengan segala aspeknya bisa dibahas secara tersendiri. Posisi Indonesia memang aneh di bandingkan dengan negara-negara lain yang terkena krisis (Korea dan Thailand). Meskipun pada permulaannya langkah-langkah yang digunakan untuk mengatasi masalah berjalan dengan lebih baik dari negara lain, meskipun kondisi permulaannya Indonesia relatif lebih baik, akan tetapi ternyata kondisi Indonesia dalam krisis ini adalah paling buruk dibandingkan dengan negara-negara lain.
Bagaimana dengan permasalahan sosial-politik? Kenyataan yang terjadi adalah, terjadi pergantian pimpinan nasional, dari Presiden Soeharto ke Presiden B.J. Habibie. Ini berlangsung tanggal 21 Mei 1998, di dahului dengan kekacauan sosial yang memalukan kita sebagai manusia Indonesia. Kebanggaaan akan gerakan mahasiswa yang akhirnya berhasil menumbangkan kekuasaan Orde Baru ternodai oleh kekacauan sosial yang menyangkut pengrusakan harta benda, pembakaran, perampokan, pemerkosaan yang sangat biadab itu. Ini nampaknya terjadi karena cara berpikir berdasarkan ‘tribalism’ tadi.
Bagaimana kenyataan sekarang? Kita melihat ada pemerintahan baru tapi tidak disertai ‘good governance’ yang sangat penting untuk menumbuhkan kepercayaan masyarakat dalam dan luar negeri. Disamping banyak langkah positif yang dilakukan pemerintah ( transparansi, kebebasan pers, kepedulian pada hak azasi dan proses penyelenggaraan kehidupan yang lebih demokratis, dimulai dengan mempersiapkan pemilu ), akan tetapi tetap saja masalahnya, pemerintahan yang ‘legal’ ini belum ‘legitimate’, belum mempunyai kredibilitas yang mantap. Masalah sosial-politis tetap menghinggapi Indonesia dewasa ini, kelembagaan sosial, hukum dan ekonomi masih runyam. Memang seperti dikemukakan di atas, ini masalah lamayang baru mencolok dengan terjadinya krisis. Masalahnya sangat banyak dan dalam aspek kelembagaan semuanya bersifat jangka menengah atau bahkan panjang. Akan tetapi, meskipun ini masalah lama juga tidak berati bahwa ini bukan masalah. Krisis kepercayaan terhadap pimpinan nasional, terhadap lembaga legislatif, judikatif dan TNI nampak sangat mencolok. Kekacauan sosial dengan berbagai macam pertentangan, atau antar suku, antar daerah, antar agama masih marak.
For whom
Untuk keluar dari krisis terlebih dahulu harus ada suatu titik balik, suatu ‘turning point’, dari pesimisme menjadi optimisme, dari ketidak percayaan menjadi percaya, dari tanpa harapan menjadi penuh harapan. Titik balik ini terjadi di Thailand dan Korea sebelum tanda-tanda untuk berhentinya krisis dan terjadinya pemulihan itu nampak. Titik balik ini harus dimulai dari pimpinan nasional, dari pemerintah yang dipercaya masyarakat dengan semua unsur-unsurnya di dalam negeri dan yang dipercaya oleh negara-negara maju serta negara-negara lain dan lembaga-lembaga multilateral, para kreditor serta investor yang sangat dibutuhkan Indonesia untuk bangkit kembali. Di Korea dan Thailand titik balik ini terjadi dengan pergantian pemerintahan. Di Indonesia pimpinan nasional telah ganti tetapi masih banyak menunjukkan sifat kepanjangan dari yang lama.
Pemilu untuk anggota DPR dan untuk Presiden diharapkan dapat menjadi pemicu terjadinya ‘turning point’ tadi.
Summary
Tantangan utama kita sebagai bangsa dewasa ini masih berkisar pada bagaimana keluar dari krisis yang telah hampir dua tahun berjalan ini untuk dapat kembali melaksanakan pembangunan nasional. Krisis yang dialami masyarakat harus dijadikan pelajaran untuk memperbaharui diri dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik dan budaya masa depan. Suatu paradigma baru dalam pembangunan Indonesia harus disusun dan dirumuskan. Ini adalah tantangan kita bersama setelah bangsa kita melewati krisis secara berhasil.
Belajar dari pengalaman pembangunan yang lalu dan krisis serta penaggulannya, dari keberhasilan dan kegagalan, pembangunan di masa depan harus lebih merata kesemua aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara, mendasarkan atas asas keadilan dan demokrasi; pendekatan pembangunan yang holistik.
Joseph Stiglitz mengatakan bahwa bahwa pembangunan itu merupakan suatu transformasi dari masyarakat, suatu perubahan dari hubungan-hubungan tradisional, cara berpikir tradisional, cara-cara tradisional dalam melaksanakan bermacam kegiatan ke arah yang lebih ‘modern’. Proses transformasi ini harus terus menerus dilakukan untuk menyempurnakan pembangunan dengan sasaran-sasaran yang diinginkan bersama. Saya melihat bahwa selama ini masyarakat Indonesia telah menjalani hidup yang pada dasarnya bisa dikatakan lebih besar pasak dari pada tiang dengan segala akibat-akibat negatifnya. Karena itu, dalam pembangunan sehabis krisis ini perlu diperhatikan bahwa:
• Manusia Indonesia baru harus dapat menghindarkan diri dari hidup yang lebih besar pasak dari tiang dalam segala aspek kehidupannya. Sikap ini harus diganti dengan semangat kebanggaan meraih yang diinginkan dengan jerih payah sendiri, tanpa jalan pintas atau jalur cepat melalui KKN.
• Manusia Indonesia baru harus berani mengganti ‘tribalism’ dengan budaya yang lebih manusiawi, budaya ketertutupan dengan keterbukaan, feodalisme dengan demokrasi dan ekslusifisme dengan inklusifisme.
Masa depan Indonesia terletak pada generasi muda. Namun generasi muda Indonesia saat ini harus berhadapan dengan persoalan-persoalan sosial yang akut sebagai akibat dari krisis multi dimensi yang berkepanjangan. Bagaimanapun masa depan harus diselamatkan, namun persoalan pelik harus kita hadapi, dan terutama dari perspektif psikologi. Dari mana kita harus mulai membenahi persoalan ini, karena sumbernya dari persoalan-persoalan sosial-ekonomi-politik.
Tugas tulisan,mengenai komedo
1. Mengenai komedo
Mungkin masalah yang satu ini semua orang pasti pernah mengalaminya, yaitu komedo.
Komedo adalah Kotoran penyumbat pori-pori ini berbentuk kecil, berwarna hitam atau putih. Dengan komedo, wajah halus terlihat kotor dan kusam. Komedo muncul akibat terjadinya penumpukan minyak berlebih (sebum), serta sel kulit mati. Saat membersihkan wajah, komedo sering terabaikan.Ada dua jenis komedo:
1. Blackhead (komedo terbuka), tampak seperti pori-pori yang membesar dan menghitam. Komedo ini berwarna kehitaman karena teroksidasi oleh udara.
* Ambil sedikit putih telur, tempatkan di wadah, kocok hingga berbusa. Oleskan di sekitar hidung atau bagian wajah yang berkomedo. Tutup dengan tisu. Biarkan hingga benar-benar kering. Lepaskan tisu secara perlahan. Di bagian dalam tisu, akan terlihat bintik-bintik komedo yang terangkat.
2. Scrub sayur dan masker kacang
tugas tulisan,perilaku konsumen dalam ilmu ekonomi mikro
Individu yang melakukan kobinasi atau produk secara optimal, bersama-sama individunya dipasar, akan membentuk suatu keseimbangan dengan asumsi bahwa semua hal tetap sama (ceteris peribus).
Konsumen dan konsumsi memiliki pengertian yang merujuk pada sutau pernyataan yang ada. Konsumen adalah seseorang atau sekelompok yang mengkonsumsi suatu barang atau jasa. Sedangkan yang dimaksud dengan konsumsi yaitu seseorang atau sekelompok orang yang mengkosnsumsi barang dan jasa. Konsumsi seseorang tergantung pada pendapatan, pendidikan kebiasaan dan kebutuhan.
Perilaku konsumen yaitu, perilaku yang kosumen tujukan dalam mencari, menukar, menggunakan, menilai mengatur, barang atau jasa yang mereka anggap akan memuaskan kebutuhan mereka.
Definisi lain adalah bagaimana konsumen mau mengelurkan suberdayanya yang terbatas seperti uang, waktu, tenaga untuk mendafatkan barang atau jasa yang diinginkan.
Hubungan antara Variabel stimulus, intervening dan variabel respon
- Faktor budaya
- Kecenderungan ke arah hidup sederhana
- Kecenderungan kembali kepada alam
- Faktor Kelas Sosial
- Faktor keluarga
- Faktor pengalaman kerja
Perilaku konsumen dapat dipelajari karena sangat dipengaruhi oleh pengalam belajarnya. Pengalaman belajar konsumen akan menentukan tindakan keputisan membeli.
- Faktor Kepribadian
- Faktor sikaf dan keyakinan
2.3Metode–Metode Penelitian Perilaku Konsumen
- Macam-macam penelitian konsumen
- Penelitian ekplorasi
- Metode mempengaruhi konsumen
- Metode memusatkan atau mempokuskan kelompok konsumen. Kelompok konsumen tersebut mengasosiasi kanya secara bebas terhadap masalah-masalah yang ada dalam pasal.
- Pendekatan penelitian konsumen
- Pendekatan penelitian konsumen
- Pendekatan penelitian cross-sectional
- Pendektan penelitian logitudinal
- Eksperimen Laboratorium
- Eksperimen Lapangan
- Wawcara pribadi
- Survei melalui telepon
- Survai melalui surat
Tujuan survei melalui surat antara lain adalah untuk medapat informasi mengenai tanggapan dan perilain konsumen terhadap suatu produk.
tugas tulisan,ciri2 wirausaha yang berhasil
- Memiliki visi dan tujuan yang jelas.Hal ini berfungsi untuk menebak ke mana langkah dan arah yang dituju sehingga dapat diketahui langkah yang harus dilakukan oleh pengusaha tersebut.
- Inisiatif dan selalu proaktif. Ini merupakan ciri mendasar di mana pengusaha tidak hanya menunggu sesuatu terjadi, tetapi terlebih dahulu memulai dan mencari peluang sebagai pelopor dalam berbagai kegiatan.
- Berorientasi pada prestasi. Pengusaha yang sukses selalu mengejar prestasi yang lebih baik daripada prestasi sebelumnya. Mutu produk, pelayanan yang diberikan, serta kepuasan pelanggan menjadi perhatian utama. Setiap waktu segala aktifitas usaha yang dijalankan selalu dievaluasi dan harus lebih baik dibanding sebelumnya.
- Berani mengambil risiko. Hal ini merupakan sifat yang harus dimiliki seorang pengusaha kapanpun dan dimanapun, baik dalam bentuk uang maupun waktu.
- Kerja keras. Jam kerja pengusaha tidak terbatas pada waktu, di mana ada peluang di situ dia datang. Kadang-kadang seorang pengusaha sulit untuk mengatur waktu kerjanya. Benaknya selalu memikirkan kemajuan usahanya. Ide-ide baru selalu mendorongnya untuk bekerja kerjas merealisasikannyaTidak ada kata sulit dan tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan.
- Bertanggungjawab terhadap segala aktivitas yang dijalankannya, baik sekarang maupun yang akan datang. Tanggung jawab seorang pengusaha tidak hanya pada segi material, tetapi juga moral kepada berbagai pihak.
- Komitmen pada berbagai pihak.
- Mengembangkan dan memelihara hubungan baik dengan berbagai pihak, baik yang berhubungan langsung dengan usaha yang dijalankan maupun tidak. Hubungan baik yang perlu dijalankan, antara lain kepada: para pelanggan, pemerintah, pemasok, serta masyarakat luas.
Sikap wirausaha
- Disiplin
- Komitmen Tinggi
- Jujur
- Kreatif dan Inovatif
- Mandiri
- Realistis
Teori ini merupakan penyempurnaan dari kelemahan-kelemahan teori yang ada sebelumnya. Dasarnya pemimpin melakukan diagnosis situasi untuk memilih gaya kepemimpinan yang paling efektif.
Tingkat kematangan karyawan (maturity), diartikan sebagai tingkat kemampuan karyawan untuk bertanggung jawab dan mengarahkan perilakunya dalam bentuk kemauan. Berdasarkan tingkat kematanganya, menurut Hersey and Blancard ada empat jenis karyawan, yaitu: (1) karyawaan yang tidak mampu dan tidak mau, (2) karyawaan yang tidak mampu, tetapi mau, (3) karyawaan yang mampu, tetapi tidak mau, (4) karyawaan yang mampu dan mau. Ada empat respon kepemimpinan dalam mengelola kinerja berdasarkan tingkat kematangan karyawan, yaitu mengarahkan, melatih, menggalang partisipasi dan mendelegasikan.
Mengarahkan (directing)
Gaya kepemimpinan yang mengarahkan, merupakan respon kepemimpinan yang perlu dilakukan oleh manajer pada kondisi karyawan lemah dalam kemampuan, minat dan komitmenya. Sementara itu, organisasi menghendaki penyelesaian tugas-tugas yang tinggi. Dalam situasi seperti ini Hersey and Blancard menyarankan agar manajer memainkan peran directive yang tinggi, memberi saran bagaimana menyelesaikan tugas-tugas itu, dengan terus intens berhubungan sosial dan komunikasi dengan bawahannya.
Pertama pemimpin harus mencari tahu mengapa orang tersebut tidak termotivasi, kemudian mencari tahu dimana keterbatasannya. Dengan demikian pemimpin harus member arahan dalam penyelesaian tugas dengan terus menumbuhkan motivasi dan optimismenya.
Melatih (coaching)
Pada kondisi karyawan menghadapi kesulitan menyelesaikan tugas-tugas, takut untuk mencoba melakukannya, manajer juga harus memproporsikan struktur tugas sesuai kemampuan dan tanggung jawab karyawan.
Oleh karena itu, pemimpin hendaknya menghabiskan waktu mendengarkan dan menasihati, dan membantu karyawan untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan melalui metode pembinaan.
Partisipasi (participation)
Gaya kepemimpinan partisipasi, adalah respon manajer yang harus diperankan ketika karyawan memiliki tingkat kemampuan yang cukup, tetapi tidak memiliki kemauan untuk melakukan tanggung jawab. Hal ini bisa dikarenakan rendahnya etos kerja atau ketidakyakinan mereka untuk melakukan tugas/tangung jawab. Dalam kasus ini pemimpin perlu membuka komunikasi dua arah dan secara aktif mendegarkan dan mengapresiasi usaha-usaha yang dilakukan para karyawan, sehingga bawahan merasa dirinya penting dan senang menyelesaikan tugas.
Mendelegasikan (delegating)
Selanjutnya, untuk tingkat karyawan dengan kemampuan dan kemauan yang tinggi, maka gaya kepemimpinan yang sesuai adalah gaya “delegasi”. Dengan gaya delegasi ini pimpinan sedikit memberi pengarahan maupun dukungan, karena dianggap sudah mampu dan mau melaksanakan tugas/tanggung jawabnya. Mereka diperkenankan untuk melaksanakan sendiri dan memutuskannya tentang bagaimana, kapan dan dimana pekerjaan mereka harus dilaksanakan. Pada gaya delegasi ini tidak terlalu diperlukan komunikasi dua arah, cukup memberikan untuk terus berkembang saja dengan terus diawasi.
tugas tulisan perbedaan tulisan,tugas dan wartawarga
Perbedaan Tulisan, Tugas dan Wartawarga
Selama saya menjelajahi dunia Portfolio mahasiswa ( untuk mendapatkan link ke blog mereka ), saya masih mendapatkan beberapa mahasiswa yang menuliskan tugas mereka pada UG Community ataupun ada UG WartaWarga. Sebenarnya hal ini salah. Mungkin karena MataKuliah Softskills ini masih baru, jadi masih banyak yang belum paham. Pada tulisan ini, saya hanya akan mengutip tulisan dari Redaksi UG Wartawarga, yang bunyinya :"PERBEDAAN TUGAS DAN TULISAN UNTUK MATA KULIAH ADAPTIF “SOFTSKILLS” Sebenarnya perbedaan “tugas” dan “tulisan” ini sudah dijelaskan di pengumuman MK yang adaptif softskill di studentsite. Mengingat masih banyak para UG-er yang masih bingung, maka tim redaksi mencoba mengulas kembali hal tersebut.
“Tugas” diinisiasi oleh dosen yang memberikan tugas kepada mahasiswanya mengenai topik-topik tertentu yang sesuai dengan silabus atau SAP dari Mata Kuliahnya. Misalnya, MK Ekonomi Koperasi (yang ternyata bertanda # yang artinya MK softskills), maka dosen akan memberikan sejumlah “TUGAS’ yang wajib dipublish di blog pribadi mahasiswanya masing-masing. Jadi setiap UG-er WAJIB MEMPUNYAI BLOG PRIBADI. Artinya “tugas” tersebut tidak dipublish di Wartawarga, UG Community, atau fasilitas blog di UG. Blog pribadi mahasiswanya relatif bebas, misalnya di ngeblogs.com, wordpress, blogspot, blogsome, multiply, atau blog berbayar . Jika sudah diposting di blog tersebut, selanjutnya Anda mensubmit postingan tersebut ke portofolio melalui menu “TUGAS” di studentsite. Pada menu tersebut anda tinggal memasukkan judul postingan, alamat URL dari postingan tersebut, serta nama Mata Kuliahnya.
Lalu apa yang dimaksud dengan “TULISAN” dan bagaimana cara mensubmitnya agar masuk ke portofolio mahasiswa ?
“TULISAN” merupakan inisiatif mahasiswa yang topiknya dapat diluar dari materi kuliah atau tidak terkait dengan tugas yang diberikan dosen. ada 2 cara menambah “TULISAN” di portofolio anda, yaitu:
- Anda menulis sebuah postingan di blog pribadi. Jika tulisan itu relatif “baik” dan “pantas” maka anda bisa mensubmit postingan tersebut ke portofolio melalui menu “TULISAN” di studentsite. Anda tinggal memasukkan judul postingan dan alamat URL dari tulisan tersebut, lalu klik submit. Sekali lagi topik “tulisan” ini lebih “bebas” atau tidak perlu terkait dengan topik tugas dari dosen. Jadi jumlah dan topik tulisanya tergantung dari inisiatif anda, namun dengan catatan tetap memperhatikan etika ilmiah, HaKI, dan peryaratan dan etika penulisan lainnya yang sudah diumumkan di studentsite.
- Anda menulis di wartawarga ini- yang secara otomatis “tulisan”-nya masuk ke portofolio. Jadi anda tidak perlu “ngapa-ngapain” keculai membuat postingan saja melalui menu “wartawarga” di studensite. Jadi sekali lagi, cara menulis di wartawarga adalah melalui menu “wartawarga” yang ada di studentsite. Anda pun tidak perlu lagi mencantumkan nama lengkap, NPM, dan kelas anda di isi postingannya karena sistem akan mengetahuinya secara otomatis. Coba setelah anda membuat tulisan di wartawarga ini, langsung kunjungi portofolio anda dan di-klik pada menu “tulisan” di portofolio tersebut maka judul postingan anda di wartawarga sudah ada di situ, termasuk link ke alamat URL postingannya di wartawarga.
tugas tulisan artikel dan jurnalisme via media internet
Blog, Blogger, Artikel dan Jurnalisme Via Media Internet |
Dunia blog tidak lepas dari tulis-menulis (meskipun pada kenyataannya kita tidak pernah menulis di blog, melainkan mengetik). Seperti halnya blogger yang "menulis" karyanya di dunia blog, begitu pula jurnalis (wartawan) menuliskan pemikiran dan liputannya di media massa (cetak/koran dan elektronik). Lantas, apakah penulis blogger bisa disamakan dengan jurnalis (wartawan). Meskipun mempunyai prinsip yang sama, dunia jurnalistik nyatanya jauh lebih luas dibandingkan blog atau blogger. Tidak salah memang karena di dunia jurnalistik, setiap wartawan dibekali pendidikan formal, ilmu jurnalistik, kode etik penulisan, dan hal-hal lain yang terikat dengan pewartaan. Meski demikian, bukan berarti blog atau blogger yang kemudian berkembang ke arah jurnalis warga (citizen jurnalism) jauh tertinggal dari jurnalis atau wartawan yang sesungguhnya. Blogger yang menulis pemikirannya di blog tidak terikat pada satu media tertentu, meskipun ada kode etik tidak tertulis yang harus dicamkan oleh setiap blogger, seperti penulisan, kode etik, copy-paste dan isu plagarisme, dan lain-lain. Tidak ada salahnya pula blogger sedikit banyak "mencuri" ilmu dari wartawan yang memperoleh pendidikan formal jurnalistik. Tidak sedikit hal yang bisa kita ambil dari dunia jurnalistik, terkait masalah penulisan bagi para blogger yang ingin mengembangkan diri sebagai citizen journalism. Lantas, Bisakah blogger menjadi jurnalis warga atau yang lebih ngetrend dengan sebutan "citizem journalism"? Pertanyaan tersebut muncul dengan semakin menjamurnya dunia blog. Berikut sebuah artikel yang aku ambil dari Tempo. Bagaimana kita menulis berita seperti karya para jurnalis profesional? Begitulah pertanyaan beberapa teman yang berniat serius menekuni jurnalisme warga. Mereka belum pernah mendapatkan pendidikan jurnalisme formal, tapi memiliki blog sebagai tempat berbagi kabar, dan hendak menjadikan media pribadinya tersebut sebagai sumber berita warga daring. Kebetulan, jurnalisme warga juga sedang menjadi isu hangat di beberapa blog komunitas. Mat Bloger, yang ikut mendengar pertanyaan itu, langsung berkomentar. "Halah, begitu saja kok repot. Tulis saja semua yang sampean punya. Bebas." Saya menukas. "Nggak bisa sembarangan begitu, Mat. Siapa pun bisa jadi jurnalis warga. Tapi, kalau mau serius, sebaiknya kita belajar dari ahlinya, orang-orang yang pekerjaan sehari-harinya memang jurnalis, terutama ketika hendak menulis atau membuat berita." "Kenapa, Mas? Apa sih yang bisa kita pelajari dari para jurnalis profesional?" tanya Mat Bloger. Jurnalis profesional bekerja berdasarkan standar prosedur, undang-undang, prinsip, dan kode etik jurnalistik. Dalam bekerja, mereka selalu menjadikan semua pegangan itu sebagai acuan untuk mendapatkan kredibilitas dan kepercayaan pembaca. Nah, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari mereka saat membuat berita.
|
tugas tulisan etika bisnis
JAKARTA - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkapkan hingga saat ini masih terdapat sekira Rp1,87 triliun potensi pendapatan negara bukan pajak (PNBP) sebagai akibat putusan yang diputuskan KPPU selama 10 tahun terakhir.
"Data komisi menunjukkan bahwa terkait denda, hingga saat ini masih terdapat sekira Rp1,87 triliun," kata Ketua KPPU Tresna P Sumardi, dalam acara penandatanganan MoU antara KPPU dengan Polri di Ruang Rupatama Mabes Polri, Jakarta, Jumat (8/10/2010).
Maka dari itu, Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) melakukan penandatanganan Memo of Understanding (MoU) dalam rangka penanganan perkara dugaan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat.
Tresna mengatakan, kerja sama ini bertujuan agar terwujudnya koordinasi antarlembaga tentang penanganan perkara dugaan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat dapat ditangani lebih efektif dan efisien sesuai tugas dan kewenangan masing-masing institusi.
Dia menambahkan, kerja sama tersebut juga sebagai bentuk satu kesatuan yang terindikasi (integrated competition justice system).
"Dalam kerja sama ini KPPU-Polri sepakat melakukan tiga hal penting, yakni pembinaan yang meliputi pengembangan intelijen ekonomi dan pelatihan, operasional, yang antara lain meliputi bantuan kepada KPPU untuk menghadirkan para pihak seperti terlapor, saksi, ahli, penyerahan dokumen atau perkara putusan dan penugasan penyelidik dan atau penyidik Polri ke KPPU, serta tukar menukar informasi," terang dia.(ade)
Ekonomi Asia Makin Powerfull
JAKARTA - Belum stabilnya perbaikan perekonomian di kawasan Amerika dan Eropa secara tidak langsung membuat kekuatan ekonomi Asia semakin besar.
Menurut Direktur Perencanaan Ekonomi Makro Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Bambang Prijambodo, kondisi pemulihan ekonomi dunia belum stabil sebab pemulihan ekonomi yang terjadi di negara-negara kawasan Eropa belum diikuti pemulihan negaranegara di kawasan Amerika Utara.
”Di Eropa pemulihan terjadi, tapi masih sangat lambat. Sementara di Amerika Serikat (AS) justru ada kekhawatiran terjadi deep resesi. Kekhawatiran ini sudah diantisipasi oleh pemerintah AS,” ujar Bambang di Jakarta kemarin.
Dia menyebutkan, pertumbuhan ekonomi AS pada 2010 diprediksi tidak akan lebih dari 2,7 persen. Perkiraan ini lebih rendah dibanding prediksi Dana Moneter Inter-nasional (International Monetary Fund/IMF) yang berada pada kisaran 3,3 persen.
Dia mengatakan, meskipun ada kekhawatiran terjadi resesi kedua kalinya dalam waktu dekat, hal ini sudah diantisipasi dengan menjaga suku bunga rendah, dengan konsekuensi nilai tukar dolar akan melemah. ”Tapi, selama dolar tidak anjlok drastis, ekonomi dunia tidak akan terganggu,” tandasnya.
Lebih lanjut Bambang menuturkan, meskipun Yunani, Irlandia, Portugal, dan Spanyol masih dibayangi krisis ekonomi, kondisi di Eropa masih lebih diuntungkan dengan pertumbuhan ekonomi di tiga negara Jerman, Inggris, dan Prancis yang cukup tinggi. Terlebih, ketiga negara ini sudah bersepakat menjaga kondusivitas ekonomi Eropa dengan menjaga defisit anggaran.
Defisit anggaran yang terjadi di Irlandia tercatat sebagai yang tertinggi di dunia dengan besaran mencapai 19 persen, sementara Yunani hanya 9,5 persen.
”Secara keseluruhan, kondisi di Eropa lebih baik dari perkiraan awal. Kondisi ini bisa bertahan asalkan negara-negara Eropa turut serta memperhatikan negara yang ketahanan fiskalnya rendah,” paparnya.
Kondisi berbeda justeru terjadi di kawasan Asia. Belum stabilnya perekonomian AS dan Eropa justru menguntungkan negara-negara di kawasan ini. Kekuatan ekonomi Asia justru akan semakin besar.
”Asia tumbuh sebagai kawasan penting. Perdagangan Asia juga makin tinggi. Kekuatan internal kawasan Asia akan makin besar,” ungkapnya.
Salah satu indikatornya, kata dia, adalah pertumbuhan ekonomi di China yang mencapai 11,9 persen pada triwulan I/2010 dan sedikit melambat pada triwulan II/2010 yang mencapai 10,3 persen.
Singapura dan Taiwan juga mengalami pertumbuhan cukup tinggi, masing-masing sebesar 18,8 persen dan 12,5 persen pada triwulan II/2010. Asia bahkan diprediksi mampu menjadi penopang perekonomian dunia.
”Dan Indonesia bagian penting dari kekuatan Asia bersama negara industri baru yakni Singapura, Korea, Taiwan, dan Hong Kong,” imbuhnya.
Indikator lainnya, lanjut Bambang, adalah derasnya aliran arus modal asing ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Sementara itu, ekonom Royal Bank of Scotland Su Sian Lim mengatakan, tidak menutup kemungkinan negara-negara di kawasan Asia mampu menjadi kekuatan baru ekonomi dunia.
Salah satu indikatornya adalah fundamental ekonomi Asia yang kuat di tengah bayang-bayang krisis ekonomi dunia. ”Bisa saja memang Asia menjadi kekuatan ekonomi baru,” tegasnya.
Asia Harus Perkuat Kerja Sama di Sektor Keuangan
JAKARTA - Bank Pembangunan Asia (ADB) dalam studinya mencatat bahwa Asia harus terus memperkuat kerja sama di sektor keuangan sebagai benteng terhadap gejolak keuangan terhadap negara-negara maju di masa depan.
Studi ini diungkapkan ADB dalam laporannya berjudul Kebijakan Perubahan untuk Asia setelah Resesi Global: Long Term Implikasi terhadap Perekonomian Asia, melalui keterangan tertulisnya kepada okezone, di Jakarta, Jumat (15/1/2010).
Namun demikian, hal tersebut juga menekankan bahwa usaha integrasi dari kerja sama itu haruslah sederhana dalam ukuran untuk memastikan adanya manfaat yang nyata.
"Para pembuat kebijakan harus menghindari penggunaan atas sumber daya birokrasi yang langka dan niat politik yang terbatas dan berinisiatif besar yang tidak menghasilkan manfaat nyata, tetapi harus fokus pada usaha skala kecil," demikian diungkapkan laporan tersebut.
Di samping itu, kerja sama yang diperkuat dengan perjanjian bilateral ini memungkinkan lembaga keuangan besar di satu negara untuk memperluas atau mengakuisisi bank lain, serta hak istimewa dalam perluasan sektor subregions, seperti Subregion Greater Mekong.
Di sisi lain, laporan tersebut juga menyarankan untuk mendukung pertumbuhan di masa depan, negara-negara di kawasan harus meningkatkan perdagangan intra.
Serta mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan produktivitas dan kapasitas mereka untuk inovasi. Selain itu, harus mengadopsi kebijakan ekonomi yang lebih kecil dan lebih menarik produsen biaya rendah, investasi langsung asing, hingga pariwisata.
Tantangan Membangun Brand
Pernahkah Anda mempertanyakan sebuah situasi di mana kerap kali ditemukan seseorang berpikir telah melakukan branding dan mengalami kegagalan dalam membangun brand tersebut.
Pada akhirnya, banyak pelaku bisnis yang sering menyalahkan proses branding sebagai sesuatu yang sia-sia dilakukan dan banyak memakan biaya percuma. Lalu, memilih kembali bertumpu dengan gaya-gaya konvensional.
Dari sejumlah pengalaman yang didapat selama bertahun-tahun di dalam industri branding, hasilnya sangatlah mengejutkan. Khususnya di Indonesia, hingga saat ini proses pembangunan branding masih banyak disalahartikan dengan definisi sebatas pembuatan logo yang bagus, kolateral yang menarik, hingga sekadar menjalankan proses pendaftaran paten/ hak cipta dari logo tersebut.
Ingatlah bahwa brand Anda mungkin saja sangat dikenal oleh masyarakat (high brandawareness) namun belum dapat dipastikan apakah brand itu menjadi pilihan (brand retention and brand loyalty).
Membangun Eksistensi
Bayangkan Anda hendak membeli sebuah telepon genggam. Tentunya hal pertama yang biasanya menjadi pertimbangan adalah harga. Selain itu, jika memungkinkan, pilih model dengan teknologi teranyar dari semua yang tersedia. Di masa era perdagangan bebas dan globalisasi seperti saat ini banyak merek-merek telepon genggam baru yang bermunculan.
Produknya didukung berbagai fitur dengan variasi harga yang ditawarkan. Pembeli kebanyakan mencari merek-merek lain yang memiliki model serupa dan mungkin dengan spesifikasi dan harga yang jauh lebih rendah.
Apa yang dapat kita pelajari dari situasi seperti ini? Situasi terburuknya adalah saking banyaknya produk serupa sehingga ketika merek yang ada disamarkan dalam sebuah uji produk, banyak konsumen mengalami kesulitan dalam melakukan proses identifikasi. Artinya, akibat tuntutan pasar yang demikian hebat, banyak produsen yang akhirnya terlalu terbawa arus tren tanpa memikirkan diferensiasi.
Memang sulit membangun sebuah diferensiasi unik tanpa didasari oleh jiwa dari pemilik suatu brand. Industri saat ini sangat dinamis, arus perputaran staf terjadi secara cepat, dan di antara mereka memiliki dasar pendidikan mirip satu dengan lainnya.
Apa yang kemungkinan terjadi adalah ide yang dihasilkan tentunya bisa menjadi banyak kemiripan sehingga relevansi harga menjadi pertarungan akhir di antara berbagai produsen yang ada.
Mengapa diferensiasi itu penting? Karena publik terlalu banyak diberikan pilihan. Kita sebagai bagian dari publik tidak punya banyak waktu untuk mencari dan meneliti satu per satu yang ditawarkan.
Oleh karenanya, kita harus disodorkan satu atau dua alasan yang kuat mengapa kita harus memilih satu produk di antara ratusan merek yang ada. Pikirkan bagaimana secangkir kopi dapat dilihat menjadi sebuah gaya hidup dan berharga jauh lebih tinggi dibandingkan warung-warung kopi di sekitar kita.
Apa yang harus kita pahami sebelum menciptakan formulasi sebuah diferensiasi? Pertama, yang harus kita tanyakan pada diri sendiri sebagai pemilik brand adalah hal-hal apa yang mendasari terciptanya produk tersebut. Apa saja elemen-elemen yang mendorong kita untuk masuk dan menjadi pemain dalam industri tersebut secara khusus dan apakah visi yang ingin dicapai pada jangka panjang.
Faktor ini harus secara detil diungkapkan, tidak sebatas ingin membuat produk terbaik, perusahaan terbesar, dan lainnya. Kita harus mengetahui kesempatan apa yang hendak diambil dari persaingan yang ada. Kemudian persepsi apa yang ingin Anda bangun dalam relasinya serta bagaimana publik melihat brand tersebut.
Kedua, untuk menciptakan sebuah diferensiasi tidaklah harus dalam bentuk yang fungsional (tangible), bisa saja bersifat emosional (intagible), misalnya untuk menjual sebuah produk sepatu tidaklah harus didasari oleh material atau teknologi belaka (yang terus berubah setiap waktu).
Namun, semangat apa yang harus dibawa bagi pemakai sepatu tersebut. Jangan kita membuat formulasi diferensiasi yang justru memperkecil ruang gerak dalam perkembangan bisnis ke depan.
Sebuah brand juga harus tumbuh secara organik mengikuti perkembangan zaman dan perilaku pangsa pasarnya. Dalam hal ini, diferensiasi bersifat emosional juga membantu memberikan fokus pada manajemen untuk mengembangkan produk mereka dengan koridor-koridor yang lebih jelas tertata dan mampu membangun persepsi dan keterikatan dengan publik dengan lebih baik.(*)
PII Tambah Modal Rp1 Triliun
BANTEN - PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) akan menambah modalnya sebesar Rp1 triliun pada tahun ini, sehingga modal menjadi Rp2 triliun.
Dengan demikian, anggaran dasar PII menjadi Rp6 triliun tergantung proses pembangunan infrastruktur hingga 2014.
"PII akan tambah modal Rp1 triliun lagi tahun ini," ujar Kepala Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Freddy Saragih, dalam diskusi Implementasi Infrastruktur: Indonesia Siap Bersaing, di Hotel Mambruk, Banten, Sabtu, 31 Juli.
Selain itu, PII sedang menunggu Keppres sebagai petunjuk pelaksanaan penjaminan oleh PT PII. Salah satu proyek yang masuk dalam penjaminan tersebut yaitu Central Java Power Plant dengan nilai Rp30 triliun.
"ADB telah memberikan komitmen untuk proyek Central Java Power Plant dengan syarat pemerintah bersedia counter guarantee," tuturnya.
Untuk itu PII diharapkan dapat melengkapi kerangka instrumen keuangan pendukung program kerja sama pemerintah dan swasta di bidang infrastruktur.
"PII tugasnya melakukan evaluasi terhadap proyek, menentukan penjaminan, dan menentukan harga yang efisien," jelasnya.
Adapun proposal penjaminan diusulkan oleh penanggung jawab kerja sama lalu dievaluasi oleh PT PII.
Bila diterima maka akan dilakukan kerja sama dengan badan usaha tersebut. PT PII juga dapat melakukan kerja sama multilateral dengan badan usaha yang memiliki penjaminan seperti World Bank dan ADB.






